"Kun FayaKun" ...

Assalamualaikum..

“Jika Allah sudah berkata ‘Kun Fayakun’, jadilah,
Maka terjadilah ia.
Maha Suci Allah, yang ditangan-Nya Segala Kekuasaan,
Kepada-Nyalah semua urusan dikembalikan ”
[ Surah yassin 82:83 ]

Petikan surah ini adalah pembuka cerita Kun Fayakun..
Pertamanya, infiniti terima kasih dan penghargaan buat akhi Rye tentang info cerita ini.

MasyaAllah..
cerita ini awal pembukaan saja sudah bisa membuat sekeping hati saya bergetar rasa, penuh dengan rasa-rasa yang penuh kesedaran, bisa membuat hati tergugah dan seakan terasa darjat diri terlalu hina di depan tuhan..SubhanAllah..
Saya tidak mahu menceritakan keseluruhan cerita ini, sahabat yang berminat untuk menghayati cerita ini, bolehlah klik link ini :



Saya Cuma mahu berkongsi ‘refleksi’ cerita ini kepada diri.. memetik kata-kata Ustaz Haji Yusuf Mansur :

“Bila kita sakit kemana kita mengadu? Doktor,
Kalau kita lapar, apa kita cari, makanan..
Allahu Karim..
hidup kita jika mempunyai masalah contohnya hajat,
Kita tidak datang kepada Allah dengan sungguh-sungguh..
Maknanya, kita tidak mengenal Allah dengan baik sebagaimana kita mengenal doktor ketika kita sakit ataupun bengkel ketika motor kita rosak.”

Kun Fayakun cerita berkisar tentang usaha seorang hamba..
Cerita tentang kehidupan,
cerita tentang dekatnya hubungan seorang hamba kepada khaliknya,

Cerita tentang kuatnya Tawakkal seorang hamba kepada penciptanya setelah dia berusaha, dan setelah itu dia sandarkan sepenuhnya harapan itu kepada penciptaNya.
Cerita tentang seorang hamba yang bila dia sedih, Dia mengadu terlebih dahulu pada tuhannya, Bila dia merasa suka dan gembira, kepada tuhannya terlebih dahulu ia luahkan, bila dia rasa tidak mampu dan rasa lemah, Kepada tuhannya juga dia mengadu..bila dalam kesempitan, tidak makan berhari-hari, kepada Allah jua yang utama tempat dia mengadu… Dia tidak mahu menyandarkan harapannya kepada manusia lain, dia juga tidak berhajatkan untuk meminta-minta kepada hamba Allah yang lain, subhanAllah..Kuatnya Tawakkal dan penyerahan diri seorang hamba kepada tuhannya.

“Sebelum meminta tolong kepada jiran, sebelum meminta tolong kepada manusia lain, kita minta tolong dulu kepada Allah”

Cerita ini, cerita penuh motivasi,
Cerita ini cerita tentang muhasabah diri,
Cerita ini penuh dengan kesedaran, hingga mampu membisikan ke dasar hati..
hinanya aku.. selalu saja terlepas kebergantungannya kepada manusia lain, sedangkan manusia itu tidak mampu menjadikan apa-apa, melainkan hanya dari izin ‘Kun Fayakun’ tuhanNya..

Cerita ini dari awalnya sudah padat dengan pengajaran, moral, nilai dan kemanusiaan.. tentang akhlak, tentang perlunya hubungan dengan tuhan sentiasa di perbaiki, hari demi hari..

Cerita ini juga berkisar tentang ibadah solat..menimbulkan setu pertanyaan, “adakah solat kita selama ini semakin mendekatkan kita denganNya, atau semakin menjauhkan kita dariNya?’

Kun Fayakun, mengajar kita untuk bersyukur, tidak berlebih-lebihan dalam menjalani kehidupan. Mensyukuri rezeki apapun yang Allah kurniakan..

Kisah ini kisah motivasi, kisah tentang keyakinan hambanya bahawa Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-hambanya, tidak akan pernah membiarkan hambanya walaupun sedikit. Bila keyakinan itu kuat, maka dia yakin pertolongan Allah itu pasti sampai bila izinnya Sampai, maka ‘jadilah’.

Kun fayakun menganjurkan kita agar tetap bersedekah..biar walau semiskin mana, kita tetap dianjurkan bersedekah.. bukan dari hanya sudut material, tetapi juga ‘non-material’..petikan ayat dari filem ini:

“Jika satu peratus kita sedekahkan kepada yang lain,
Allah akan membalasnya 10 peratus,
Jika kita bersedekah 10 Peratus,
Allah akan membalasnya 100 Peratus”


Biar semiskin mana pun, dia tidak pernah meminta-minta kepada manusia yang lain..

“Tiada salahnya kita menerima..
Saling memberi, menerima, dan memrhatikan,
Apalagi sesama Muslim.
Tetapi tetap saja tangan yang diatas lebih mulia dari yang di bawah.” …
Dan di masa akan datang, kita patut menjadi pemilik tangan yang diatas”


Kisah ini mengajar kita erti untuk memaafkan. Sekalipun kemaafan itu sukar untuk diberikan apatah lagi setelah kita di zalimi, Maha suci Allah, siapakah kita yang selayaknya enggan memaafkan manusia lain, sedangkan Kemaafan Allah tidak pernah berbatas dan bersempadan”

Kisah ini kisah yang ringan pada wacananya, tetapi berat pada isinya, kisah yang berpijak di dunia nyata, kisah yang penuh tarbiah kepada hati yang mahu meneliti hati, yang selalunya tidak berhati-hati, hingga terlupa kita punyai sekeping hati yang sudah mati!

Cerita ini agak mendatar, tetapi apa yang paling penting, lompang kosong hampir tiada dalam cerita ini.

Cerita yang padat dan tepu dengan saranan dan anjuran untuk membuat kebaikan tidak hanya sesama insan, tetapi juga kepada tuhan.. SubhanaAllah..

Untuk akhirnya, sahabat yang lain kena tengok sendiri ceritanya dan nilaikan sendiri.
Teliti dengan mata hati, ada tak cerita macam ni dalam Negara kita yea??

Pengajaran dan pelajaran ada di mana-mana, selagi mana kita mahu mengambilnya sebagai pengajaran dan pelajaran buat diri yang mudah terlupa..

Akhir kalam, “Allah Maha Sempurna Dalam Segala RencanaNya”

Wallahu’alam..

P/s >> Sangat tersentuh pada babak bila nasi yang ada tinggal yang terakhir untuk dimakan malam itu. Isteri Ardan hanya makan sisa-sisa nasi yang melekat di tepi periuk.

P/s >> Betapa ramainya manusia lain yang hidup serba dalam keadaan dhaif, Ada juga yang hidup tidak pernah meminta dan tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mereka menjalani hidup, hari ini untuk hari ini, dan hanya cukup-cukup, namun mereka masih tetap bersyukur.

Tetapi ada juga yang senang lenang, mewah meruah, terlupa untuk berkata ‘alhamdulillah’ kepada si Tuan kekayaan.

Adakah kita sanggup membiarkan golongan yang hidupnya hari ini hanya cukup-cukup untuk hari ini, bertatih-tatih sendirian, menolak gerobak kehidupan penuh kepayahan, dan kita kenyang-kenyangan, sedangkan mereka menahan pedih Kelaparan?


Mulai beredar di biosko-bioskop mulai 17 April 2008

Jenis Film : Drama
Produser : H.r. Dhony Ramadhan
Produksi : Putaar Production

Pelakon :
Agus Kuncoro
Desy Ratnasari
Sutradara :
H. Guntur Novaris
Penulis :
H. Yusuf Mansur
H. Guntur Novaris


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini



0 Cakap2 Belakang..:

Catat Ulasan

Silakanlah mengkritik dan saranan.